Penulis: Nursyamsa Hadis |
Makna harfiah Idul Fitri kembali kepada kesucian. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. Ar-Ruum: 30).
![]() |
Foto ilustrasi oleh Pixabay.com |
Ulama menafsirkan ayat ini bahwa jiwa dan raga manusia tegak lurus kepada agama Islam. Itulah fitrah Allah yang dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Dengan demikian sejatinya Idul Fitri adalah momentum evaluasi bagaimana capaian kualitas iman dari madrasah Ramadhan yang mengembalikan kepada fitrah penciptaan kita sebagai manusia yang selalu berusahan mengamalkan Al Qur’an dan Sunnah.
Estuari puasa ramadhan adalah terbentuknya insan beriman yang bertakwa. Orang yang bertakwa tergambar pada firman Allah Swt dalam surah Ali Imran Ayat 134-135 :
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذا فَعَلُوا فاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَاّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلى ما فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)
(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.
Merujuk ayat ini bahwa di antara ciri-ciri orang-orang yang bertakwa; Pertama, menginfakkan sebagian harta baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Kecenderungan mudah berinfak selama bulan Ramadhan hendaknya terus dibudayakan pada bulan-bulan selanjutnya.
Dalam surat al-Hadid ayat 7, Allah mengingatkan bahwa berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.
Menafkahkan harta di jalan Allah meliputi infak untuk kepentingan jihad fi sabilillah, pembangunan tempat-tempat ibadah: masjid, mushalla, madrasah, rumah sakit, lembaga-lembaga sosial lainnya yang diridhai oleh Allah Swt.
Yang menghalangi sesorang untuk berinfak biasanya beranggapan akan mengurangi hartanya. Anggapan ini keliru, sebab Nabi menunjukkan bahwa harta yang dikeluarkan untuk kepentingan sedekah itu tidak akan mengurangi sedikit pun kekayaan seseorang, melainkan justru menjadi investasi akhirat yang akan dinikmati hasilnya.
Bahkan, Allah menegaskan dalam surat al-Baqarah ayat 261 bahwa perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir tumbuh seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendaki, dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Pada QS. al-Baqarah (2) : 274 Allah Swt berfirman:
اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ
Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.
Juga pada QS. Saba’ Allah berfirman: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)
Kedua, orang yang mampu menguasai hawa nafsunya. Di antara bentuk prilaku orang yang mampu menguasai hawa nafsu adalah orang-orang yang jika diberi cobaan oleh Allah Swt tetap sabar dan tidak emosi dan keluh kesah.
Kehidupan tidak akan pernah sepi dari cobaan (QS.2: 56). Oleh karena itu penulis berpandangan bahwa manusia itu betul-betul tidak ada lagi cobaan jika sudah di Surga.
Di sinilah pentingnya kita memiliki pendekatan yang tepat untuk merespon setiap persoalan yang menghinggapi kita sehingga memiliki determinasi yang kuat dalam melakoni kehidupan untuk menjadi manusia pemenang bukan sebaliknya menjadi manusia pecundang.
Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang meninggalkan amarahnya, Allah akan tutup aurat (kesalahan/kekurangan/aib)-nya. Siapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melakukannya, Allah ‘azza wa jalla akan memenuhi hatinya dengan rasa aman pada hari kiamat." (HR Ibnu Asakir). Orang-orang inilah yang oleh Rasulullah Saw dikategorikan sebagai orang kuat.
Ketiga, sabar dan mampu mengendalikan diri. Ulama dan pemikir Muslim, Ibn Qayyim Al-Jawziyyah mengartikan sabar sebagai kemampuan untuk menghadapi rasa sakit dan penderitaan tanpa mengeluh atau menyerah. Menurutnya, sabar bukanlah sikap pasif, tetapi merupakan sikap yang aktif dalam menemukan jalan keluar atau solusi dari masalah yang dihadapi.
Imam al-Ghazali berpandangan sabar itu meliputi tujuh macam, yaitu sabar untuk tidak memenuhi kemauan nafsu perut dan farji, yang disebut dengan al-iffah; sabar menahan dari permusuhan dan seteru yang disebut dengan as-syaja’ah; sabar menahan diri dari amarah dan angkara murka yang disebut dengan al-hilm; sabar menahan diri dari hidup mewah dan berlebihan, yang disebut dengan az-zuhd; sabar dengan tetap ikhlas menerima bagian (rizki) yang telah ditentukan oleh Tuhan, yang disebut dengan al-qana’ah; sabar dari menyimpan rahasia, menerima permintaan maaf orang lain yang disebut dengan kitmanu sirrin dan sa’atu shadrin.
Sabar dan keimanan memiliki korelasi yang sangat kuat. Seperti yang dikatakan sahabat Ali bin Abi Thalib RA: Ketahuilah bahwa kaitan antara kesabaran dan keimanan adalah ibarat kepala dan tubuh. Jika kepala manusia sudah tidak ada, secara langsung tubuhnya juga tidak akan berfungsi. Demikian pula dengan kesabaran. Apabila kesabaran sudah hilang, keimanan pun akan hilang.
Keempat, bertaubat atas segala dosa yang telah diperbuat. Nabi bersabda: Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat dari kesalahannya. (HR. At Tirmidzi no. 2499, Hasan)
Sebagai manusia yang sadar akan banyaknya kesalahan yang pernah diperbuat hendaknya memperbanyak membaca kalimat thayyibah: tahlil, tahmid, tasbih dan istighfar , karena dengan kalimat-kalimat ini bisa menjadi asbab dihapuskan dosa-dosa kita dan tak kalah pentingnya sebagai tameng kokoh dalam menghadapi godaan-godaan syetan yang menyesatkan.
Nabi bersabda: “Barang siapa yang membaca: “Maha Suci Allah dan aku memuji-Nya”, dalam sehari seratus kali, maka kesalahannya akan dihapuskan sekalipun seperti buih air laut.” (HR. Bukhari: 7/168, Muslim: 4/2071 no.2691). Di hadits lainnya Nabi manyatakan: “Perkataan yang paling disenangi oleh Allah adalah empat: Subhaanallaah,Alhamdulillaah, Laa ilaaha illallaah, Allaahu akbar. Tidak mengapa dimulai yang mana di antara kalimat tersebut.” (HR. Muslim: 3/1685 no.2137)
Bulan Syawal ini merupakan momentum terbaik untuk saling memaafkan. Idul Fitri bagi alumnus madrasah Ramadhan hendaknya menjadi penanda memulai lembaran baru, yang membudayakan dalam kesehariannya; gemar menginfakkan sebagian hartanya baik dalam kondisi lapang maupun sempit; menjadi orang yang mampu menguasai hawa nafsu; melakoni kesabaran dan mampu mengendalikan diri; dan segera bertaubat atas segala dosa yang telah diperbuat. (Depok, 4 Syawal 2025/3 April 2025).
(Penulis adalah Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah)