Penulis: Gandis Prinovayana Waleuru |
Di usianya yang telah menginjak 78 tahun, Tati Hasanah, atau yang lebih akrab disapa Ibu Mawi, menunjukkan bahwa usia hanyalah angka dalam hal pengabdian dan menuntut ilmu,. Sosok perempuan asal Makassar ini tetap aktif menggerakkan berbagai majelis taklim di lingkungannya, bahkan di saat banyak rekan sejawatnya memilih untuk beristirahat di rumah.
Penyematan nama "Mawi" sendiri berasal dari nama suaminya, seorang pria asal Banten yang pernah bekerja sebagai marbot masjid,. Tradisi di lingkungan PKK kelurahan membuat nama suami lebih melekat padanya ketimbang nama aslinya sendiri.
Transformasi Lingkungan Sejak 1997
Perjalanan dakwah Ibu Mawi di lingkungannya saat ini dimulai sekitar tahun 1997-1998 setelah ia pindah dari Tebet, Jakarta Selatan. Kala itu, ia mendapati kondisi masyarakat yang masih sangat jauh dari nilai-nilai religius.
"Tahun 97 itu enggak ada salat di sini," kenangnya, menggambarkan tantangan awal yang ia hadapi saat melihat warga yang belum menutup aurat dengan layak.
Berbekal keberanian untuk berkorban waktu dan materi, ia mulai merintis pengajian kecil-kecilan. Bermula dari hanya lima orang anggota, kini perjuangannya membuahkan hasil dengan berdirinya beberapa majelis taklim yang ia prakarsai sendiri, seperti Attaqwa dan Al-Qana'ah.
Dakwah Melalui Hal Kecil
Mawi memiliki cara unik dalam berdakwah. Selain aktif di enam majelis taklim dalam seminggu, ia juga pernah lama mengabdi di Pokja 1 PKK Kelurahan yang membidangi pengajian. Di sana, ia sering menyelipkan pesan-pesan Islami dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti di Posyandu.
"Sebelum anak-anak dimandikan atau diperiksa, baca dulu bismillah," ujarnya.
Meski terkadang mendapat reaksi beragam dari warga yang berbeda keyakinan, Mawi tetap menyampaikannya dengan cara yang halus sehingga banyak warga non-Muslim pun akhirnya ikut terpengaruh secara positif.
Motivasi dan Pesan Untuk Generasi Muda
Saat ditanya mengenai motivasinya yang seolah tak pernah habis, mantan pegawai Kantor Pos dan Giro Grogol, Jakarta Barat, ini menjawab singkat, "Karena Allah, lain enggak ada."
Baginya, mengabdi kepada masyarakat dan agama adalah panggilan jiwa yang ia rasakan sejak kecil, meski ayahnya adalah seorang pelaut yang sering bepergian.
Kini, di masa tuanya, ia telah mulai membatasi diri dari jabatan struktural di kelurahan untuk memberikan kesempatan bagi generasi muda. Namun, semangatnya dalam belajar dan mengajar tidak pernah surut. Saat ini, ia bahkan tengah merintis kelompok pengajian baru bagi ibu-ibu di Gang Mangga.
Ia berpesan kepada para mahasiswa dan anak-anak muda agar tidak pernah menyerah dalam mencari ilmu. "Jangan bosan menuntut ilmu. Kalau ilmu yang kita baru dapat, cepat-cepat salurkan. Karena, kalau disimpan sendiri, bisa hilang," pungkasnya penuh semangat. ***
(Penulis adalah mahasaiswi STID M natsir, Jakarta)