Seorang jenderal polisi berdiri di atas mimbar kayu. Seragam cokelat membungkus tubuhnya, tanda pangkat melekat di bahu, atribut kedinasan menghiasi dadanya. Kopiah hitam bertengger di kepala.
Bayangkan ada seseorang yang bekerja keras puluhan tahun, mengumpulkan aset miliaran rupiah, namun tiba-tiba dinyatakan pailit dan jatuh miskin dalam semalam? Di dunia, hal itu adalah sebuah tragedi. Di akhirat nanti, ada tragedi yang jauh lebih mengerikan: Ada orang yang menjadi bangkrut di hadapan Allah SWT yang disebut dengan istilah al-muflis.
Agama tak pernah masuk ke politik sendirian. Yang masuk adalah manusia yang membawa nama agama, otoritas keagamaan, organisasi, atau nilai-nilai keagamaan. Dan karena agama ada sepanjang masa, sementara kekuasaan diperlukan, maka keduanya pun tak pernah lepas.
Kadang kita merasa sedang berjihad membela kebenaran, tetapi tanpa sadar yang kita lawan justru saudara sendiri. Berbeda pendapat berubah menjadi permusuhan, kritik berubah menjadi serangan, menjaga amanah berubah menjadi saling menuduh, bahkan aib saudara dibongkar demi membuktikan siapa yang benar.
Bayangkan seseorang berdiri di atas mimbar dan berbicara lantang tentang bagaimana negara seharusnya dikelola: anggaran harus transparan, pejabat harus amanah, korupsi harus diberantas, hukum harus ditegakkan, dan kekuasaan harus digunakan untuk kepentingan umat.