Zona nyaman itu tidak selalu salah. Ia memberi rasa aman, stabil, dan tenang. Namun ketika zona nyaman berubah menjadi alasan untuk tidak bertumbuh, di situlah ia menjadi jebakan.
Kalau dunia ini panggung sandiwara, maka minyak adalah aktor utama yang selalu minta bayaran mahal, bahkan sebelum tampil. Begitu ada konflik di Timur Tengah, harga minyak melonjak seperti harga cabai menjelang Lebaran.
Ramadhan selalu datang dengan dua wajah. Di satu sisi, masjid dipenuhi oleh jamaah yang rindu sujud, tilawah, dan i’tikaf. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan fenomena yang tidak kalah mencolok: warkop dan kafe yang ramai hingga larut malam, bahkan menjelang sahur.
Bayangkan sebuah panggung megah di Washington, penuh lampu kristal diplomatik, karpet merah tebal, dan spanduk bertuliskan “Peace”. Lalu, pada Kamis hari ini (19/2/2026) masuklah para delegasi dunia, sebagian membawa map, sebagian membawa harapan, dan sebagian lagi — sejujurnya — membawa proposal proyek.
Fenomena jam karet telah lama menjadi penyakit laten dalam banyak organisasi, termasuk organisasi Islam. Rapat yang dijadwalkan pukul 08.00 baru dimulai pukul 09.00, pengajian atau musyawarah umat yang tak kunjung dimulai karena "menunggu tokoh". Ironisnya, semua ini terjadi dalam organisasi yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan utama.
Ibnul Qayyim Rahimahullah pernah berkata, "Kebahagiaan manusia adalah dengan baiknya tiga hal (yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati). Sedang kesengsaraan manusia adalah karena rusaknya tiga hal tersebut." (Miftah Daar As-Sa'adah, 1:354)
Maraknya maksiat di tengah umat Islam hari ini bukan sekadar persoalan lemahnya iman individu. Ia adalah indikator telak bahwa dakwah maksiat jauh lebih gencar, masif, dan sistematis dibanding dakwah kebaikan.